Hot Best Seller

Mice Cartoon: Kamus Istilah Komentator Bola / Football's Coming Home!

Availability: Ready to download


Compare

30 review for Mice Cartoon: Kamus Istilah Komentator Bola / Football's Coming Home!

  1. 4 out of 5

    ibnumaroghi

    Mice sebagai bocah yang dibesarkan di perkotaan merasa ngenes dengan lingkungan masyarakatnya yang telah kehilangan area bermain, khususnya permainan yang di lakukan di lapangan. Dulu adalah surga bagi anak-anak untuk bermain sepuasnya di tanah kosong—untuk bermain bola plastik ataupun permainan lainnya yang membutuhkan area luas. Bola plastik adalah permainan yang amat digemari oleh anak-anak jaman dulu—paling kaga waktu generasi gua—di lapangan kosong. Mainnya seabis ngaji—sekitar jam 4 sore. K Mice sebagai bocah yang dibesarkan di perkotaan merasa ngenes dengan lingkungan masyarakatnya yang telah kehilangan area bermain, khususnya permainan yang di lakukan di lapangan. Dulu adalah surga bagi anak-anak untuk bermain sepuasnya di tanah kosong—untuk bermain bola plastik ataupun permainan lainnya yang membutuhkan area luas. Bola plastik adalah permainan yang amat digemari oleh anak-anak jaman dulu—paling kaga waktu generasi gua—di lapangan kosong. Mainnya seabis ngaji—sekitar jam 4 sore. Kadang di lapangan bola, tapi seringnya di aspal. Entah areanya itu besar atau kecil, entah ada gawang plus jaringnya atau hanya meletakkan sandal-sandal sebagai perlambang gawang; anak-anak girang bener nyeker nendang-nendangin itu bola. Bola plastik, bola yang jelas-jelas terbuat dari plastik ini punya ciri khas yang engga dipunyai oleh bola bliter. Bola plastik punya inti atau pusat yang disebut dengan batok. Bola plastik kan dibuat dari sepasang setengah lingkaran yang disatuin. Batok ini adanya di ujung sambungannya, ujung dari penempelan bola plastik itu. Jangan coba-coba buat nendang bola pas di bagian batok kalo gamau benjut itu kaki. Selain itu, bola plastik punya kegalauan setingkat layangan. Arah tendangan bisa amat kencang dari biasanya (jikamana searah dengan angin) atau amat pelan kayak melayang-layang gitu aja di udara (kalok bertolak belakang dengan arah angin. Seru bener deh! Setiap hari pasti beli bola. Boros banget, yah? Iya, soalnya tiap kali main diakhiri dengan pecahnya itu bola. Bolanya emang rentan banget pecah. Supaya meminimalisasi ke-pecah-an, biasanya bolanya dilobangin pake benda yang kecil, misalnya peniti. Selain biar ga gampang pecah, itu juga berguna supaya bolanya independen en ga terlalu galau kerna angin. Hal favorit temen-temen gua pas main bola adalah mentokin bola tembok. Jadi, di lapangan deket rumah itu ditembokin sisi-sisinya. Untuk maksimalin tempat, maka kaga ada aturan bola-keluar-lapangan, kecuali ngeliwatin tembok. Nah, Temen-temen gua yang emang dari rahim emaknya udah kreatip maka jadilah tembok itu rekan one-twonya. Asik, kan? :)) Tapi, itu dulu... Sekarang masa-masa itu udah liwat. Udah engga ada lagi tanah kosong. Udah engga ada lagi lapangan bola. Udah engga ada lagi kesenangan bocah riang yang bermain di area umum. Yang ada hanya bangunan-bangunan luas nan tinggi dengan desain minimalisnya yang menampung orang-orang kaya bak penguasa kota Jakarta. Mice amat mengingatkan masa lalu gua. Mice mengembalikan ingatan masa kecil yang asyik tak tertanggungkan. Dan sekarang gua harus menginsyafinya. Dan mereka, bocah-bocah belia itu, harus menghadapi masa-masa yang penuh dengan kekinian.

  2. 4 out of 5

    Wirotomo Nofamilyname

    Buku ini diawali dengan baik, dialog Mice (yg fans Liverpool) dengan tukang warung membicarakan pertandingan Liverpool vs MU, yang diakhiri tukang warungnya dengan "Hari gini masih mbela Liverpool, kemana aja" atau kurang lebihnya begitu, bikin saya tertawa terbahak-bahak. Yah karena saya dan Mice, yang lahir sekitar awal 70-an, dan baru mulai menonton pertandingan sepakbola pada akhir tahun 1970-an pastilah fans dari Liverpool atau MU yang pada tahun 70-an akhir dan 80-an awal adalah tim jagoan. Buku ini diawali dengan baik, dialog Mice (yg fans Liverpool) dengan tukang warung membicarakan pertandingan Liverpool vs MU, yang diakhiri tukang warungnya dengan "Hari gini masih mbela Liverpool, kemana aja" atau kurang lebihnya begitu, bikin saya tertawa terbahak-bahak. Yah karena saya dan Mice, yang lahir sekitar awal 70-an, dan baru mulai menonton pertandingan sepakbola pada akhir tahun 1970-an pastilah fans dari Liverpool atau MU yang pada tahun 70-an akhir dan 80-an awal adalah tim jagoan. Tapi bedanya, MU sampai saat ini masih tetap tim jagoan, sedangkan Liverpool mulai merosot. Tapi nggak mungkin kami, para fans Liverpool meninggalkan tim favorit sejak masa kecil kami. Itu pengkhianat namanya. Dan hati kami sudah terikat dengan Liverpool, dalam susah dan senang :-) Seorang teman SMA yang juga fans Liverpool begitu tahu seorang teman seangkatan kami yang tiba-tiba jadi fans-nya Chelsea, hanya berkomentar "kemane aje loe selama ini!". Chelsea baru mulai jagoan di tahun 2000-an, jadi selama ini dia mbela siapa atau malah baru mulai nonton bola kali'. Hehehe. Bagian itu cukup menghibur saya, tapi alangkah kecewanya kemudian ketika sebagian besar buku itu hanya penggambaran jayus untuk istilah2 yang selama ini kita dengar diucapkan oleh komentator sepakbola: bola liar, memanfaatkan lebar lapangan, dsb. Sangat-sangat mengecewakan. Tapi anehnya di bagian penutupnya kembali lucu lagi ketika Mice menampilkan adegan Ustadz Maulana yang menjelaskan beda menutup aurat dengan membungkus aurat hahaha yang ternyata... ah baca aja sendiri. Kemudian bagian Football's Coming Home yg diletakkan di belakang, terbalik (shg sepertinya bisa dianggap buku terpisah) menceritakan kenangan masa kecil Mice yg juga sdh senang main sepakbola. Tentu saja ada kritik seperti di lagu Iwan Fals mengenai ketiadaan lapangan bola saat ini. Bagian menarik dari bagian ini adalah saat dia menjelaskan mengenai cara mereka mengakali bola plastik yang mereka gunakan. Saya jadi ingat masa kecil saya, saat MENONTON teman saya main bola (saya anti permainan yang body-contact, saya lebih suka badminton, volley yang ada batas net dengan lawan). membuat saya jadi bernostalgia lagi. :-) secara keseluruhan saya kasih bintang 3 hanya demi 3 hal tersebut di atas: Liverpool, Ustadz Maulana dan bola plastik. :-)

  3. 5 out of 5

    Dita Hero

    Ringan, super ringan. Namun, tetap menghibur dan membuat nostalgia.

  4. 4 out of 5

    Anggi Hafiz Al Hakam

    Yeah, Mice is a Liverpudlians! Pembukaan yang sangat “mengagumkan” untuk saya yang Liverpudlians juga. Dari awal, Mice sudah menggarap konstruksi realitas yang memang sedang terjadi saat ini. Liverpool tidak lebih baik dari Manchester United. Guyonan pembukaan yang cukup menggebrak. Buku yang habis dibaca sekali duduk ini, bisa dianggap juga sebagai "kamus parodi". Parodi untuk istilah-istilah yang sering kita dengar dari para komentator sepakbola. Pada bagian ini, Mice cukup “lempeng” untuk membe Yeah, Mice is a Liverpudlians! Pembukaan yang sangat “mengagumkan” untuk saya yang Liverpudlians juga. Dari awal, Mice sudah menggarap konstruksi realitas yang memang sedang terjadi saat ini. Liverpool tidak lebih baik dari Manchester United. Guyonan pembukaan yang cukup menggebrak. Buku yang habis dibaca sekali duduk ini, bisa dianggap juga sebagai "kamus parodi". Parodi untuk istilah-istilah yang sering kita dengar dari para komentator sepakbola. Pada bagian ini, Mice cukup “lempeng” untuk memberi penafsiran makna melalui gambar kartun. Mice memberikan definisi literer sesuai dengan istilah-istilah para komentator. Mice, secara tidak langsung melakukan kritik terhadap dominasi dan hegemoni kaum kapitalis pemilik modal yang menguasai setiap tayangan langsung siaran sepakbola. Hal ini muncul karena terjadi pemakluman umum terhadap kaum pemodal. Karena para pemodal sudah terlanjur mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk membeli hak siar siaran liga-liga sepakbola dunia, maka mereka menarik sebanyak-banyaknya pemodal lain untuk secara bersama-sama ‘menguasai’ penonton. Agaknya, mereka juga paham soal teori Komunikasi Massa. Tidak berhenti sampai disitu. Mice nampak sengaja membuat kartun ini menjadi dua bagian. Bagian kedua, "Football's Coming Home" menampilkan suatu pemaknaan atas realitas yang juga terjadi secara nyata di hadapan kita. "Football's Coming Home" tampil dengan sederhana tetapi mengandung makna yang dalam. Mice bercerita tentang masa kecilnya, disaat bermain sepakbola adalah satu-satunya hal yang bisa membuatnya bahagia. This is the best part. Rentetan peristiwa masa kecil dimunculkan. Nostalgia romantis menggugah memori kembali pada masa-masa itu. Pembaca yang mengalami runtutan peristiwa tadi pasti merindukan kembali momen masa kecil seperti itu. Pesan yang dibawa Mice melalui kartun bagian kedua tadi cukup jelas. Disaat Inggris merindukan kembali kejayaan sepakbola mereka, kita di Indonesia masih ribut soal PSSI dan KPSI. Ini adalah suatu bentuk kritik moral terhadap institutsi sepakbola negeri ini yang sarat akan muatan kepentingan golongan tertentu. Negeri ini punya 250 juta penduduk, tetapi tidak ada satu orang pun yang bisa mengurus sepakbola nasional. Suatu hal yang memalukan, mengingat negara tetangga sudah jauh berlari meninggalkan kita yang masih saja meributkan hal-hal remeh. Anyway, kartun ini worth reading dan sangat perlu untuk mengimbangi rutinitas keseharian penonton sepakbola yang begitu-begitu saja. Terutama, dalam memaknai ucapan sang komentator. Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 12 Januari 2012.

  5. 4 out of 5

    Nura

    lebih suka bagian yang kedua. terkenang sama masa kanak-kanak. saat masih banyak pohon yang bisa dipanjat, main perosotan di tanjakan belakang rumah, maen benteng di lapangan pinggir empang. sekarang, jalanan aja tinggal dua meter lebarnya. kebon pisang tempat maen masak-masakan udah jadi perumahan mewah harga milyaran. sedih...

  6. 5 out of 5

    Dewi

    Bagian Kamus Istilah Komentator Bola menurut saya membosankan. Terlalu harfiah humornya. Bagian kedua yaitu Football's Coming Home lebih menarik Bagian Kamus Istilah Komentator Bola menurut saya membosankan. Terlalu harfiah humornya. Bagian kedua yaitu Football's Coming Home lebih menarik

  7. 5 out of 5

    Fla Rose

    pas banget penggambarannya, bener-bener ngena banget kayak kenyataannya :D

  8. 4 out of 5

    Titis Wardhana

    ya ampun, main bola di pinggir pantai... how cool is that? lautnya masih bersih, pantainya luas dan bersih juga, kalo sekarang sih kayak kata lagu: It's only just a dreammm... :p ya ampun, main bola di pinggir pantai... how cool is that? lautnya masih bersih, pantainya luas dan bersih juga, kalo sekarang sih kayak kata lagu: It's only just a dreammm... :p

  9. 4 out of 5

    yessika ayurisna

    too bad, kali ini kurang lucu dibanding yang obladi-oblada. mungkin karena saya gak terlalu into sama bola...

  10. 5 out of 5

    Raffi Anandita

    sddds

  11. 5 out of 5

    Yulius Jelly

    good comics.. very funny..

  12. 5 out of 5

    Prediksisitusbola

    buku ini sanfat bagus saya pernah membacanya www.prediksisitusbola.com buku ini sanfat bagus saya pernah membacanya www.prediksisitusbola.com

  13. 5 out of 5

    Vadelmuhammads

  14. 5 out of 5

    Pra

  15. 4 out of 5

    Sholahuddin

  16. 5 out of 5

    Alfonsus Sutradewa

  17. 5 out of 5

    Bagus Reza

  18. 4 out of 5

    Bryant Orlando

  19. 4 out of 5

    Awi Chin

  20. 4 out of 5

    Fira Nursya'bani

  21. 4 out of 5

    Indah Threez Lestari

  22. 4 out of 5

    Rian Irawan

  23. 4 out of 5

    Pujangga Kandang

  24. 4 out of 5

    Radhitya Nugraha

  25. 5 out of 5

    Awan Irfan

  26. 4 out of 5

    Christy Zakarias

  27. 4 out of 5

    Ahmad D'Leonisty

  28. 5 out of 5

    Baihaqi Muhammad

  29. 4 out of 5

    Ilham Muhibat

  30. 5 out of 5

    Rizki Febriawan

Add a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...